Aku sering berfikir tentang bagaimana memahami pasangan cinta yang sejati. Tapi sebelumnya aku juga telah memikirkan bagaimana tandanya jatuh cinta pada seseorang. Pernah kubaca sebuah buku yang isinya terdapat kalimat “ Kalau kau mencintai seseorang, kau akan tahu saja”. Mungkin maksudnya adalah kalau kau mencintai seseorang tak selalu ada tanda-tanda yang aneh, merasa pusing atau apalah misalnya. Dan aku menganggap kalimat itu adalah sebuah jawaban rahasia dari pertanyaan tersebut.
Aku menutup kedua mataku dan terbenam dalam ketidaksabaran masa remaja, sementara kata-kata, “Kau akan tahu saja” terulang-ulang di benakku seperti reffren nyanyian yang menjengkelkan.
Itu keliru, pikirku. Harus ada suatu isyarat yang konkret, sesuatu yang tegas, sesuatu yang kasat mata. Apabila kita jatuh cinta, harus ada suatu isyarat khas atau tanda petunjuk. Berjajarnya benda-benda angkasa secara istimewa juga boleh, pikirku. Atau burung-burung dan kupu-kupu beterbangan di sekeliling kepala kita seperti Snow White Disney pun boleh juga. Harus ada suatu bukti bahwa kita telah melangkahi kabut menuju sisi lain di mana tinggal orang-orang yang sedang jatuh cinta. Hmm, rasanya aku sudah puas dengan sesuatu yang amat sederhana seperti sedikit cahaya di mata.
Tak sedikit teman-teman dekatku yang berjenis kelamin laki-laki, dan tak seorangpun yang dapat membuatku merasa aneh. Tapi ada di antara mereka yang sangat dekat denganku dibandingkan dengan yang lain. Yang sangat dekat tersebut tak pernah absent dari hari-hariku. Kami cukup cocok, dan suatu persahabatan hebat berkembang, yang segera mendalam menjadi sesuatu yang lebih. Tetapi, sesuatu yang lebih itu apa? Apakah sekedar rasa sayang? Apakah itu cinta? Aku menghormati dan mengaguminya. Tetapi aku juga menghormati dan mengagumi_nya (yang lain), dan pasti tidak menjadikannya calon pasangan hidup.
Selama beberapa bulan kemudian, pertanyaan itu, “Bagaimana kau tahu bahwa ini cinta?” menggangguku.
Selama ini, aku berharap menemukan tanda-tanda cinta dalam hal-hal yang luar biasa dan istimewa. Tetapi aku tidak pernah menemukannya dalam lusinan bunga mawar, coklat, atau lirik soneta yang berbunga-bunga. Bagiku, cinta menyelinap ke dalam lubuk hatiku, tanpa pemberitahuan, tanpa hiruk-pikuk, tanpa upacara, dan cinta itu diam-diam mendirikan rumah tangga hanya intuk mengungkapkan kehadirannya dalam kebaikan hati yang biasa dan sederhana.
Setahuku kalo di Al Qur'an tu g ada cinta, adanya syahwat. Nurut anda gimana ?
ReplyDelete"Qul lil mu'miniina yaghdudhu min abshoorihim." (QS. An-Nur : 30) ("Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka")
ReplyDelete